Tuesday, 3 June 2014

HIPERMETROPIA (RABUN DEKAT/MATA PLUS)

Hipermetropia


No. ICPC II : F91 Refractive error
No. ICD X : H52.0 Hypermetropia
Tingkat Kemampuan: Hipermetropia ringan 4A

Masalah Kesehatan

Hipermetropia merupakan keadaan gangguan kekuatan pembiasan mata
dimana sinar sejajar jauh tidak cukup kuat dibiaskan sehingga titik fokusnya
terletak di belakang retina.
Kelainan ini menyebar merata di berbagai geografis, etnis, usia dan jenis
kelamin. Hipermetrop pada anak-anak tidak perlu dikoreksi kecuali bila
disertai dengan gangguan motor sensorik ataupun keluhan astenopia.
Sinonim: rabun dekat

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Pasien datang dengan keluhan melihat dekat dan jauh kabur.
a. Gejala penglihatan dekat, kabur lebih awal, terutama bila lelah dan
    penerangan kurang.
b. Sakit kepala terutama daerah frontal dan makin kuat pada penggunaan
    mata yang lama dan membaca dekat. Penglihatan tidak enak
    (asthenopia akomodatif = eye strain) terutama bila melihat pada jarak
    yang tetap dan diperlukan penglihatan jelas pada jangka waktu yang
     lama, misalnya menonton TV dan lain-lain.
c. Mata sensitif terhadap sinar.
d. Spasme akomodasi yang dapat menimbulkan pseudomiopia. Mata juling
    dapat terjadi karena akomodasi yang berlebihan akan diikuti
    konvergensi yang berlebihan pula.

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan refraksi subjektif
    1. Penderita duduk menghadap kartu snellen pada jarak 6 meter.
    2. Pada mata dipasang bingkai percobaan. Satu mata ditutup, biasanya
        mata kiri ditutup terlebih dahulu untuk memeriksa mata kanan.
    3. Penderita disuruh membaca kartu snellen mulai huruf terbesar
        (teratas) dan diteruskan pada baris bawahnya sampai pada huruf
        terkecil yang masih dapat dibaca. Lensa positif terkecil ditambah
        pada mata yang diperiksadan bila tampak lebih jelas oleh penderita
        lensa positif tersebut ditambah kekuatannya perlahan–lahan dan
        disuruh membaca huruf-huruf pada baris yang lebih bawah.
        Ditambah kekuatan lensa sampai terbaca huruf-huruf pada baris
        6/6. Ditambah lensa positif +0.25 lagi dan ditanyakan apakah masih
        dapat melihat huruf-huruf di atas.
    4. Mata yang lain diperiksa dengan cara yang sama.
    5. Penilaian: bila dengan S +2.00 tajam penglihatan 6/6, kemudian
        dengan S +2.25 tajam penglihatan 6/6 sedang dengan S +2.50 tajam
        penglihatan 6/6-2 maka pada keadaan ini derajat hipermetropia yang
        diperiksa S +2.25 dan kacamata dengan ukuran ini diberikan pada
        penderita. Pada penderita hipermetropia selama diberikan lensa sferis
        positif terbesar yang memberikan tajam penglihatan terbaik.
b. Pada pasien dengan daya akomodasi yang masih sangat kuat atau pada
    anak-anak, sebaiknya pemeriksaan dilakukan dengan pemberian
    siklopegik atau melumpuhkan otot akomodasi.

Pemeriksaan Penunjang

Tidak diperlukan

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis Klinis
Penegakan diagnosis dengan anamnesis dan pemeriksaan refraksi subjektif.

Komplikasi

a. Esotropia atau juling ke dalam terjadi akibat pasien selamanya
    melakukan akomodasi.
b. Glaukoma sekunder terjadi akibat hipertrofi otot siliar pada badan siliar
    yang akan mempersempit sudut bilik mata.
c. Ambliopia

Rencana Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
Koreksi dengan lensa sferis positif terkuat yang menghasilkan tajam
penglihatan terbaik.

Konseling dan Edukasi
Memberitahu keluarga jika penyakit ini harus dikoreksi dengan bantuan kaca
mata. Karena jika tidak, maka mata akan berakomodasi terus menerus dan
menyebabkan komplikasi.

Kriteria rujukan

Rujukan dilakukan jika timbul komplikasi.

SaranaPrasarana

a. Snellen chart
b. Satu set lensa coba (trial frame)

Prognosis

Prognosis pada umumnya ad bonam jika segera dikoreksi dengan lensa sferis
positif.

No comments:

Post a comment

Follow by Email