Friday, 27 June 2014

ANGINA PEKTORIS (NYERI DADA)

Angina Pektoris



No. ICPC II : K74 Ischaemic herat disease with angina
No. ICD X : I20.9 Angina pectoris, unspecified
Tingkat Kemampuan: 3B

Masalah Kesehatan

Angina pektoris ialah suatu sindrom klinis berupa serangan nyeri dada yang
khas, yaitu seperti rasa ditekan atau terasa berat di dada yang sering menjalar
ke lengan kiri. Nyeri dada tersebut biasanya timbul pada saat melakukan
aktivitas dan segera hilang bila aktivitas dihentikan.
Angina pektoris merupakan tanda klinis pertama pada sekitar 50% pasien
yang mengalami penyakit jantung koroner. Angina pektoris dilaporkan terjadi
dengan rata-rata kejadian 1,5% tergantung pada jenis kelamin, umur, pasien
dan faktor risiko. Data dari studi Framingham pada tahun 1970 dengan studi
kohort diikuti selama 10 tahun menunjukkan prevalensi sekitar 1,5% untuk
wanita dan 4,3% untuk pria berusia 50 – 59 tahun.

Hasil Anamnesis (Subjective)
























Keluhan
Pasien datang dengan keluhan nyeri dada yang khas, yaitu seperti rasa
ditekan atau terasa berat seperti ditimpa beban yang sangat berat.
Diagnosis seringkali berdasarkan keluhan nyeri dada yang mempunyai ciri
khas sebagai berikut:
a. Letak
   Sering pasien merasakan nyeri dada di daerah sternum atau di bawah
   sternum (substernal), atau dada sebelah kiri dan kadang-kadang
   menjalar ke lengan kiri, dapat menjalar ke punggung, rahang, leher,
   atau ke lengan kanan. Nyeri dada juga dapat timbul di tempat lain
   seperti di daerah epigastrium, leher, rahang, gigi, bahu.
b. Kualitas
   Pada angina, nyeri dada biasanya seperti tertekan benda berat, atau
   seperti diperas atau terasa panas, kadang-kadang hanya mengeluh
   perasaan tidak enak di dada karena pasien tidak dapat menjelaskan
   dengan baik, lebih-lebih jika pendidikan pasien kurang.
c. Hubungan dengan aktivitas
   Nyeri dada pada angina pektoris biasanya timbul pada saat melakukan
   aktivitas, misalnya sedang berjalan cepat, tergesa-gesa, atau sedang
   berjalan mendaki atau naik tangga. Pada kasus yang berat aktivitas
   ringan seperti mandi atau menggosok gigi, makan terlalu kenyang,
   emosi, sudah dapat menimbulkan nyeri dada. Nyeri dada tersebut segera
   hilang bila pasien menghentikan aktivitasnya. Serangan angina dapat
   timbul pada waktu istirahat atau pada waktu tidur malam.
d. Lamanya serangan
   Lamanya nyeri dada biasanya berlangsung 1-5 menit, kadangkadang
   perasaan tidak enak di dada masih terasa setelah nyeri hilang.
   Bila nyeri dada berlangsung lebih dari 20 menit, mungkin pasien
   mendapat serangan infark miokard akut dan bukan angina pektoris
   biasa. Pada angina pektoris dapat timbul keluhan lain seperti sesak
   napas, perasaan lelah, kadang-kadang nyeri dada disertai keringat
   dingin.
e. Nyeri dada bisa disertai keringat dingin , mual, muntah, sesak dan
   pucat.

Faktor Risiko
Faktor risiko yang tidak dapat diubah:
a. Usia
   Risiko meningkat pada pria datas 45 tahun dan wanita diatas 55 tahun
   (umumnya setelah menopause)
b. Jenis kelamin
   Morbiditas akibat penyakit jantung koroner (PJK) pada laki-laki dua kali
   lebih besar dibandingkan pada perempuan, hal ini berkaitan dengan
   estrogen endogen yang bersifat protektif pada perempuan. Hal ini
   terbukti insidensi PJK meningkat dengan cepat dan akhirnya setara
   dengan laki-laki pada wanita setelah masa menopause.
c. Riwayat keluarga
   Riwayat anggota keluarga sedarah yang mengalami penyakit jantung
   koroner sebelum usia 70 tahun merupakan faktor risiko terjadinya PJK.

Faktor risiko yang dapat diubah:
a. Mayor
   1. Peningkatan lipid serum
   2. Hipertensi
   3. Merokok
   4. Konsumsi alkohol
   5. Diabetes Melitus
   6. Diet tinggi lemak jenuh, kolesterol dan kalori
b. Minor
   1. Aktivitas fisik kurang
   2. Stress psikologik
   3. Tipe kepribadian

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
a. Sewaktu angina dapat tidak menunjukkan kelainan. Walau jarang pada
   auskultasi dapat terdengar derap atrial atau ventrikel dan murmur
   sistolik di daerah apeks. Frekuensi denyut jantung dapat menurun,
   menetap atau meningkat pada waktu serangan angina.
b. Dapat ditemukan pembesaran jantung.

Pemeriksaan Penunjang
a. EKG
   Gambaran EKG saat istirahat dan bukan pada saat serangan angina
   sering masih normal. Gambaran EKG dapat menunjukkan bahwa pasien
   pernah mendapat infark miokard di masa lampau. Kadang-kadang
   menunjukkan pembesaran ventrikel kiri pada pasien hipertensi dan
   angina; dapat pula menunjukkan perubahan segmen ST atau gelombang
   T yang tidak khas. Pada saat serangan angina, EKG akan menunjukkan
   depresi segmen ST dan gelombang T dapat menjadi negatif.
   Gambaran EKG penderita angina tak stabil/ATS dapat berupa depresi
   segmen ST, inversi gelombang T, depresi segmen ST disertai inversi
   gelombang T, elevasi segmen ST, hambatan cabang ikatan His dan bisa
   tanpa perubahan segmen ST dan gelombang T. Perubahan EKG pada
   ATS bersifat sementara dan masing-masing dapat terjadi sendiri-sendiri
   ataupun bersamaan. Perubahan tersebut timbul di saat serangan angina
   dan kembali ke gambaran normal atau awal setelah keluhan angina
   hilang dalam waktu 24 jam. Bila perubahan tersebut menetap setelah 24
   jam atau terjadi evolusi gelombang Q, maka disebut sebagai IMA.
b. Foto toraks
   Foto rontgen dada sering menunjukkan bentuk jantung yang normal;
   pada pasien hipertensi dapat terlihat jantung membesar dan kadangkadang
   tampak adanya kalsifikasi arkus aorta.

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
penunjang.

Klasifikasi Angina:
a. Stable Angina Pectoris (angina pectoris stabil)
   Keluhan nyeri dada timbul bila melakukan suatu pekerjaan, sesuai
   dengan berat ringannya pencetus, dibagi atas beberapa tingkatan:
   1. Selalu timbul sesudah latihan berat.
   2. Timbul sesudah latihan sedang ( jalan cepat 1/2 km)
   3. Timbul waktu latihan ringan (jalan 100 m)
   4. Angina timbul jika gerak badan ringan (jalan biasa)

b. Unstable Angina Pectoris (angina pectoris tidak stabil/ATS) di
   masyarakat biasa disebut Angin Duduk.
   Bentuk ini merupakan kelompok suatu keadaan yang dapat berubah
   seperti keluhan yang bertambah progresif, sebelumnya dengan angina
   stabil atau angina pada pertama kali. Angina dapat terjadi pada saat
   istirahat maupun bekerja. Pada patologi biasanya ditemukan daerah
   iskemik miokard yang mempunyai ciri tersendiri.
c. Angina prinzmetal (Variant angina)
   Terjadi tanpa peningkatan jelas beban kerja jantung dan pada
   kenyataannya sering timbul pada waktu beristirahat atau tidur. Pada
   angina prinzmetal terjadi spasme arteri koroner yang menimbulkan
   iskemi jantung di bagian hilir. Kadang-kadang tempat spasme berkaitan
   dengan arterosklerosis.

Klasifikasi Angina Pektoris menurut Canadian Cardiovascular Society
Classification System:
a. Kelas I: Pada aktivitas fisik biasa tidak mencetuskan angina. Angina
   akan muncul ketika melakukan peningkatan aktivitas fisik (berjalan
   cepat, olahraga dalam waktu yang lama).
b. Kelas II: Adanya pembatasan aktivitas sedikit/ aktivitas sehari-hari (naik
   tangga dengan cepat, jalan naik, jalan setelah makan, stres, dingin).
c. Kelas III: Benar-benar ada pembatasan aktivitas fisik karena sudah
   timbul gejala angina ketika pasien baru berjalan 1 blok atau naik tangga
   baru 1 tingkat.
d. Kelas IV: Tidak bisa melakukan aktivitas sehari-sehari, tidak nyaman,
   untuk melakukan aktivitas sedikit saja bisa kambuh, bahkan waktu
   istirahat juga bisa terjadi angina.

Diagnosis Banding

a. Gastroesofageal Refluks Disease (GERD)
b. Gastritis Akut

Komplikasi

Infark Miokard (otot jantung mati)

Rencana Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
Modifikasi gaya hidup:
a. mengontrol emosi dan mengurangi kerja yang berat dimana
   membutuhkan banyak oksigen dalam aktivitasnya
b. mengurangi konsumsi makanan berlemak
c. menghentikan konsumsi rokok dan alkohol
d. menjaga berat badan ideal
e. mengatur pola makan
f. melakukan olah raga ringan secara teratur
g. jika memiliki riwayat diabetes tetap melakukan pengobatan diabetes
   secara teratur
h. melakukan kontrol terhadap kadar serum lipid.
i. Mengontrol tekanan darah.

Terapi farmakologi:
a. Nitrat dikombinasikan dengan β-blocker atau Calcium Channel Blocker
   (CCB) non dihidropiridin yang tidak meningkatkan heart rate (misalnya
   verapamil, diltiazem). Pemberian dosis pada serangan akut :
   1. Nitrat 10 mg sublingual dapat dilanjutkan dengan 10 mg peroral
      sampai mendapat pelayanan rawat lanjutan di Pelayanan sekunder.
   2. Beta bloker:
      • Propanolol 20-80 mg dalamdosis terbagi atau
      • Bisoprolol 2,5-5 mg per 24 jam.
   3. Calcium Channel Blocker (CCB)
      Dipakai bila Beta Blocker merupakan kontraindikasi.
      • Verapamil 80 mg (2-3 kali sehari)
      • Diltiazem 30 mg ( 3-4 kali sehari)
b. Antipletelet:
   Aspirin 160-320 mg sekali minum pada akut.
c. Oksigen dimulai 2 l/menit

Konseling dan Edukasi

Memberitahu individu dan keluarga untuk:
a. Mengontrol emosi, mengurangi kerja yang berat dimana membutuhkan
   banyak oksigen dalam aktivitasnya.
b. Melakukan pola hidup sehat seperti mengurangi konsumsi makanan
   berlemak, menghentikan konsumsi rokok dan alkohol, menjaga berat
   badan ideal, mengatur pola makan, melakukan olah raga ringan secara
   teratur.

Kriteria Rujukan

Dilakukan rujukan ke layanan sekunder (spesialis jantung/spesialis penyakit
dalam) untuk tatalaksana lebih lanjut

Sarana Prasarana

a. Elektrokardiografi (EKG)
b. Obat-obatan: Nitrat, Beta blocker, Calsium channel blocker, antiplatelet
c. Oksigen

Prognosis

Prognosis umumnya dubia ad bonam jika dilakukan tatalaksana dini dan
tepat.




Sumber gambar :
 http://www.dietrendahkalori.com/wp-content/uploads/2013/07/serangan-jantung-ilustrasi-_110912101820-502.jpg
 http://caramengobatistroke06.files.wordpress.com/2013/04/jantung-koroner-a.jpg

No comments:

Post a comment

Follow by Email