Saturday, 22 November 2014

MIGREN

Migren

No. ICPC II : N89 Migraine
No. ICD X : G43.9 Migraine, unspecified
Tingkat Kemampuan: 4A

Masalah Kesehatan

Migren adalah suatu istilah yang digunakan untuk nyeri kepala primer dengan
kualitas vaskular (berdenyut), diawali unilateral yang diikuti oleh mual,
fotofobia, fonofobia, gangguan tidur dan depresi. Serangan seringkali berulang
dan cenderung tidak akan bertambah parah setelah bertahun-tahun. Migren
bila tidak diterapi akan berlangsung antara 4-72 jam dan yang klasik terdiri
atas 4 fase yaitu fase prodromal (kurang lebih 25 % kasus), fase aura (kurang
lebih 15% kasus), fase nyeri kepala dan fase postdromal.

Pada wanita migren lebih banyak ditemukan dibanding pria dengan skala 2:1.
Wanita hamil tidak luput dari serangan migren, pada umumnya serangan
muncul pada kehamilan trimester I.

Sampai saat ini belum diketahui dengan pasti faktor penyebab migren, diduga
sebagai gangguan neurobiologis, perubahan sensitivitas sistem saraf dan
avikasi sistem trigeminal-vaskular, sehingga migren termasuk dalam nyeri
kepala primer.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Suatu serangan migren dapat menyebabkan sebagian atau seluruh tanda dan
gejala, sebagai berikut:
a. Nyeri moderat sampai berat, kebanyakan penderita migren merasakan
    nyeri hanya pada satu sisi kepala, namun sebagian merasakan nyeri
    pada kedua sisi kepala.
b. Sakit kepala berdenyut atau serasa ditusuk-tusuk.
c. Rasa nyerinya semakin parah dengan aktivitas fisik.
d. Rasa nyerinya sedemikian rupa sehingga tidak dapat melakukan
    aktivitas sehari-hari.
e. Mual dengan atau tanpa muntah.
f. Fotofobia atau fonofobia.
g. Sakit kepalanya mereda secara bertahap pada siang hari dan setelah
    bangun tidur, kebanyakan pasien melaporkan merasa lelah dan lemah
    setelah serangan.
h. Sekitar 60 % penderita melaporkan gejala prodormal, seringkali terjadi
    beberapa jam atau beberapa hari sebelum onset dimulai. Pasien
    melaporkan perubahan mood dan tingkah laku dan bisa juga gejala
    psikologis, neurologis atau otonom.

Faktor Predisposisi
a. Menstruasi biasa pada hari pertama menstruasi atau sebelumnya/
    perubahan hormonal.
b. Puasa dan terlambat makan
c. Makanan misalnya akohol, coklat, susu, keju dan buah-buahan.
d. Cahaya kilat atau berkelip.
e. Banyak tidur atau kurang tidur
f. Faktor herediter
g. Faktor kepribadian

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik, tanda vital harus normal, pemeriksaan neurologis
normal. Temuan-temuan yang abnormal menunjukkan sebab-sebab sekunder,
yang memerlukan pendekatan diagnostik dan terapi yang berbeda.

Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium tidak diperlukan, pemeriksaan ini dilakukan
    jika ditemukan hal-hal, sebagai berikut:
    1. Kelainan-kelainan struktural, metabolik dan penyebab lain yang
        dapat menyerupai gejala migren.
    2. Dilakukan untuk menyingkirkan penyakit penyerta yang dapat
        menyebabkan komplikasi.
    3. Menentukan dasar pengobatan dan untuk menyingkirkan
        kontraindikasi obat-obatan yang diberikan.
b. Pencitraan (dilakukan di rumah sakit rujukan).
c. Neuroimaging diindikasikan pada hal-hal, sebagai berikut:
    1. Sakit kepala yang pertama atau yang terparah seumur hidup
        penderita.
    2. Perubahan pada frekuensi keparahan atau gambaran klinis pada
        migren.
    3. Pemeriksaan neurologis yang abnormal.
    4. Sakit kepala yang progresif atau persisten.
    5. Gejala-gejala neurologis yang tidak memenuhi kriteria migren dengan
        aura atau hal-hal lain yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
    6. Defisit neurologis yang persisten.
    7. Hemikrania yang selalu pada sisi yang sama dan berkaitan dengan
        gejala-gejala neurologis yang kontralateral.
    8. Respon yang tidak adekuat terhadap terapi rutin.
    9. Gejala klinis yang tidak biasa.

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, gejala klinis dan pemeriksaan
fisik umum dan neurologis.

Kriteria Migren:
Nyeri kepala episodik dalam waktu 4-72 jam dengan gejala dua dari nyeri
kepala unilateral, berdenyut, bertambah berat dengan gerakan, intensitas
sedang sampai berat ditambah satu dari mual atau muntah, fonopobia atau
fotofobia.

Diagnosis Banding

a. Arteriovenous Malformations
b. Atypical Facial Pain
c. Cerebral Aneurysms
d. Childhood Migraine Variants
e. Chronic Paroxysmal Hemicrania
f. Cluster-type hedache (nyeri kepala kluster)

Komplikasi

a. Stroke iskemik dapat terjadi sebagai komplikasi yang jarang namun
    sangat serius dari migren. Hal ini dipengaruhi oleh faktor risiko seperti
    aura, jenis kelamin wanita, merokok, penggunaan hormon estrogen.
b. Pada migren komplikata dapat menyebabkan hemiparesis.

Rencana Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
a. Pada saat serangan pasien dianjurkan untuk menghindari stimulasi
    sensoris berlebihan.
b. Bila memungkinkan beristirahat di tempat gelap dan tenang dengan
    dikompres dingin.
    1. Perubahan pola hidup dapat mengurangi jumlah dan tingkat
        keparahan migren, baik pada pasien yang menggunakan obat-obat
       preventif atau tidak.
    2. Menghindari pemicu, jika makanan tertentu menyebabkan sakit
       kepala, hindarilah dan makan makanan yang lain. Jika ada aroma
       tertentu yang dapat memicu maka harus dihindari. Secara umum
       pola tidur yang reguler dan pola makan yang reguler dapat cukup
       membantu.
   3. Berolahraga secara teratur, olahraga aerobik secara teratur
      mengurangi tekanan dan dapat mencegah migren.
   4. Mengurangi efek estrogen, pada wanita dengan migren dimana
      estrogen menjadi pemicunya atau menyebabkan gejala menjadi lebih
      parah, atau orang dengan riwayat keluarga memiliki tekanan darah
      tinggi atau stroke sebaiknya mengurangi obat-obatan yang
      mengandung estrogen.
  5. Berhenti merokok, merokok dapat memicu sakit kepala atau
      membuat sakit kepala menjadi lebih parah (dimasukkan di
      konseling).
  6. Penggunaan headache diary untuk mencatat frekuensi sakit kepala.
  7. Pendekatan terapi untuk migren melibatkan pengobatan akut
      (abortif) dan preventif (profilaksis).
c. Pengobatan Abortif:
    1. Analgesik spesifik adalah analgesik yang hanya bekerja sebagai
        analgesik nyeri kepala. Lebih bermanfaat untuk kasus yang berat
        atau respon buruk dengan OINS. Contoh: Ergotamin,
        Dihydroergotamin, dan golongan Triptan yang merupakan agonis
        selektif reseptor serotonin pada 5-HT1.
        Ergotamin dan DHE diberikan pada migren sedang sampai berat
        apabila analgesik non spesifik kurang terlihat hasilnya atau memberi
        efek samping. Kombinasi ergotamin dengan kafein bertujuan untuk
        menambah absorpsi ergotamin sebagai analgesik. Hindari pada
        kehamilan, hipertensi tidak terkendali, penyakit serebrovaskuler
        serta gagal ginjal.
        Sumatriptan dapat meredakan nyeri, mual, fotobia dan fonofobia.
        Obat ini diberikan pada migren berat atau yang tidak memberikan
        respon terhadap analgesik non spesifik. Dosis awal 50 mg dengan
        dosis maksimal 200 mg dalam 24 jam.
  2. Analgesik non spesifik yaitu analgesik yang dapat diberikan pada
      nyeri lain selain nyeri kepala, dapat menolong pada migren intensitas
      nyeri ringan sampai sedang.

Tabel 35. Regimen analgesik



     * Respon terapi dalam 2 jam (nyeri kepala residual ringan atau hilang dalam 2
        jam)
      Domperidon atau metoklopropamid sebagai antiemetic dapat diberikan saat
      serangan nyeri kepala atau bahkan lebih awal yaitu pada saat fase prodromal.
d. Pengobatan preventif:
    Pengobatan preventif harus selalu diminum tanpa melihat adanya
    serangan atau tidak. Pengobatan dapat diberikan dalam jangka waktu
    episodik, jangka pendek (subakut), atau jangka panjang (kronis). Pada
    serangan episodik diberikan bila factor pencetus dikenal dengan baik,
    sehingga dapat diberikan analgesik sebelumnya. Terapi prevenntif
    jangka pendek diberikan apabila pasien akan terkena faktor risiko yang
    telah dikenal dalam jangka waktu tertentu, misalnya migren menstrual.
    Terapi preventif kronis diberikan dalam beberapa bulan bahkan tahun
    tergantung respon pasien.

Farmakoterapi pencegahan migren:
Tabel 36. Farmakoterapi pencegah migren



Komplikasi

a. Obat-obat NSAID seperti ibuprofen dan aspirin dapat menyebabkan efek
    samping seperti nyeri abdominal, perdarahan dan ulkus, terutama jika
    digunakan dalam dosis besar dan jangka waktu yang lama.
b. Penggunaan obat-obatan abortif lebih dari dua atau tiga kali seminggu
    dengan jumlah yang besar, dapat menyebabkan komplikasi serius yang
    dinamakan rebound.

Konseling dan Edukasi
a. Pasien dan keluarga dapat berusaha mengontrol serangan.
b. Keluarga menasehati pasien untuk beristirahat dan menghindari
    pemicu, serta berolahraga secara teratur.
c. Keluarga menasehati pasien jika merokok untuk berhenti merokok
    karena merokok dapat memicu sakit kepala atau membuat sakit kepala
    menjadi lebih parah.

Kriteria Rujukan

Pasien perlu dirujuk jika migren terus berlanjut dan tidak hilang dengan
pengobatan analgesik non-spesifik. Pasien dirujuk ke layanan sekunder
(dokter spesialis saraf).

Sarana Prasarana

a. Alat pemerikaan neurologis
b. Obat antimigren

Prognosis

Prognosis pada umumnya bonam, namun quo ad sanationam adalah dubia
karena sering terjadi berulang.






1 comment:

Follow by Email