Tuesday, 6 May 2014

TAENIASIS (CACING PITA)

Taeniasis

      Gambar : PERHATIKAN SECARA DETAIL, DAGING YG TERINFEKSI CACING PITA


No. ICPC II : D96 Worms/other parasites
No. ICD X : B68.9 Taeniasis
Tingkat Kemampuan: 4A

Masalah Kesehatan

Taeniasis adalah penyakit zoonosis parasiter yang disebabkan oleh cacing pita yang tergolong dalam genus Taenia (Taenia saginata, Taenia solium, dan Taenia asiatica) pada manusia.
Taenia saginata adalah cacing yang sering ditemukan di negara yang penduduknya banyak makan daging sapi/kerbau. Infeksi lebih mudah terjadi bila cara memasak daging setengah matang.
Taenia solium adalah cacing pita yang ditemukan di daging babi. Penyakit ini ditemukan pada orang yang biasa memakan daging babi khususnya yang diolah tidak matang. Ternak babi yang tidak dipelihara kebersihannya, dapat berperan penting dalam penularan cacing Taenia solium.

 

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Gejala klinis taeniasis sangat bervariasi dan tidak khas. Sebagian kasus tidak menunjukkan gejala (asimptomatis). Gejala klinis dapat timbul sebagai akibat iritasi mukosa usus atau toksin yang dihasilkan cacing. Gejala tersebut antara lain:
  a. Rasa tidak enak pada lambung
  b. Mual
  c. Badan lemah
  d. Berat badan menurun
  e. Nafsu makan menurun
  f. Sakit kepala
  g. Konstipasi
  h. Pusing
  i. Pruritus ani
  j. Diare

Faktor Risiko
a. Mengkonsumsi daging yang dimasak setengah matang/mentah, dan mengandung larva sistiserkosis.
b. Higiene yang rendah dalam pengolahan makanan bersumber daging.
c. Ternak yang tidak dijaga kebersihan kandang dan makanannya.

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan tanda vital.
b. Pemeriksaan generalis: nyeri ulu hati, ileus juga dapat terjadi jika strobila cacing membuat obstruksi usus.

Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium mikroskopik dengan menemukan telur dalam spesimen tinja segar.
b. Secara makroskopik dengan menemukan proglotid pada tinja
c. Pemeriksaan laboratorium darah tepi: dapat ditemukan eosinofilia, leukositosis, LED meningkat.

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

Diagnosis Banding :-

Komplikasi : Sistiserkosis

Rencana Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
a. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan, antara lain:
   1. Mengolah daging sampai matang dan menjaga kebersihan hewan ternak.
   2. Menggunakan jamban keluarga.
b. Farmakologi:
   1. Pemberian albendazol menjadi terapi pilihan saat ini dengan dosis 400 mg, 1-2 x sehari, selama 3 hari, atau
   2. Mebendazol 100 mg, 3 x sehari, selama 2 atau 4 minggu.

Konseling dan Edukasi
Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, yaitu antara lain:
  a. Mengolah daging sampai matang dan menjaga kebersihan hewan ternak
  b. Sebaiknya setiap keluarga memiliki jamban keluarga.

Kriteria Rujukan

Bila ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada sistiserkosis

Sarana Prasarana

Laboratorium sederhana untuk pemeriksaan darah dan feses.

Prognosis

Prognosis pada umumnya bonam kecuali jika terdapat komplikasi berupa sistiserkosis

Catatan :  Sistiserkosis adalah infeksi jaringan oleh bentuklarva Taenia yang disebut sistiserkus akibat termakan telur cacing pita Taenia. [1] Cacing pita Babi dapat menyebabkan sistiserkosis pada manusia, sedangkan cacing pita sapi tidak dapat menyebabkan sistiserkosis pada manusia.[2] Sedangkan kemampuan Taenia asiatica dalam menyebabkan sistiserkosis belum diketahui secara pasti. (http://id.wikipedia.org/wiki/Sistiserkosis)


Sumber Gambar :  http://3.bp.blogspot.com/-aQw_G0d-ZCE/Ua4HCjXqJsI/AAAAAAAAADo/GPIVcuFCzXg/s1600/Life+Cycle+Taenia+Solium.jpg
http://bioweb.uwlax.edu/bio203/s2008/geske_rich/images/OrgBioCystsInPigMuscle.jpg

No comments:

Post a comment

Follow by Email