Saturday, 10 May 2014

PERITONITIS

Peritonitis

 
No. ICPC II : D99 Disease digestive system, other
No. ICD X : K65.9 Peritonitis, unspecified
Tingkat Kemampuan: 3B

Masalah Kesehatan

Peritonitis adalah inflamasi dari peritoneum (lapisan serosa yang menutupi rongga abdomen dan organ-organ abdomen di dalamnya). Peritonitis dapat disebabkan oleh kelainan di dalam abdomen berupa inflamasi dan penyulitnya misalnya perforasi apendisitis, perforasi tukak lambung, perforasi tifus abdominalis. Ileus obstruktif dan perdarahan oleh karena perforasi organ berongga karena trauma abdomen.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
a. Nyeri hebat pada abdomen yang dirasakan terus-menerus selama beberapa jam, dapat hanya di satu tempat ataupun tersebar di seluruh abdomen. Intensitas nyeri semakin kuat saat penderita bergerak seperti
jalan, bernafas, batuk, atau mengejan.
b. Bila telah terjadi peritonitis bakterial, suhu badan penderita akan naik dan terjadi takikardia, hipotensi dan penderita tampak letargik dan syok.
c. Mual dan muntah timbul akibat adanya kelainan patologis organ visera atau akibat iritasi peritoneum.
d. Kesulitan bernafas disebabkan oleh adanya cairan dalam abdomen, yang dapat mendorong diafragma.

Faktor Risiko : -

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
  a. Pasien tampak letargik dan kesakitan
  b. Dapat ditemukan adanya demam
  c. Distensi abdomen disertai nyeri tekan dan nyeri lepas abdomen
  d. Adanya defans muskular (otot perut kaku)
  e. Hipertimpani pada perkusi abdomen
  f. Pekak hati dapat menghilang akibat udara bebas di bawah diafragma
  g. Bising usus menurun atau menghilang
  h. Rigiditas abdomen atau sering disebut ’perut papan’, terjadi akibat kontraksi otot dinding abdomen secara volunter sebagai respon/antisipasi terhadap penekanan pada dinding abdomen ataupun involunter sebagai respon terhadap iritasi peritoneum.
  i. Pada rectal toucher akan terasa nyeri di semua arah, dengan tonus muskulus sfingter ani menurun dan ampula rekti berisi udara.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang tidak dilakukan di layanan primer untuk menghindari keterlambatan dalam melakukan rujukan.

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasar anamnesis dan pemeriksaan fisik dari tandatanda khas yang ditemukan pada pasien.

Diagnosis Banding : -

Komplikasi

a. Septikemia
b. Syok

Rencana Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
Pasien segera dirujuk setelah penegakan diagnosis dan penatalaksanaan awal seperti berikut:
  a. Memperbaiki keadaan umum pasien
  b. Pasien puasa
  c. Dekompresi saluran cerna dengan pipa nasogastrik atau intestinal
  d. Penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena
  e. Pemberian antibiotik spektrum luas intravena.
  f. Tindakan-tindakan menghilangkan nyeri dihindari untuk tidak menyamarkan gejala

Pemeriksaan penunjang lanjutan
Pemeriksaan lainnya untuk persiapan operasi.

Kriteria Rujukan

Rujuk ke fasilitas kesehatan sekunder yang memiliki dokter spesialis bedah.

Sarana Prasarana

Tidak ada sarana prasarana khusus

Prognosis

Prognosis untuk peritonitis adalah dubia ad malam.


Sumber gambar :  http://cdn.medindia.net/health-images/bacterial-peritonitis.jpg

No comments:

Post a comment

Follow by Email