Thursday, 23 October 2014

ARTHRITIS REUMATOID

Artritis Reumatoid


No. ICPC II : L99 Musculosceletal disease other
No. ICD X : M53.3 Polymyalgia rheumatica
Tingkat Kemampuan: 3A

Masalah Kesehatan

Penyakit autoimun yang ditandai dengan terdapatnya sinovitis erosif simetrik
yang walaupun terutama mengenai jaringan persendian, seringkali juga
melibatkan organ tubuh lainnya.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Gejala pada awal onset
Gejala prodromal: lelah (malaise), anoreksia, seluruh tubuh terasa lemah yang
                                 berlangsung berminggu-minggu atau berbulan-bulan.
Gejala spesifik pada beberapa sendi (poliartrikular) secara simetris, terutama
sendi : - PIP (proximal interphalangeal),
            - MCP (metacarpophalangeal),pergelangan tangan, lutut, dan kaki.
Gejala sinovitis pada sendi yang terkena: bengkak, nyeri yang diperburuk
dengan gerakan sehingga gerakan menjadi terbatas, kekakuan pada pagi hari
> 1 jam.
Gejala ekstraartikular: mata (episkleritis), saluran nafas atas (nyeri tenggorok,
nyeri menelan atau disfonia yang terasa lebih berat pada pagi hari),
kardiovaskular (nyeri dada pada perikarditis), hematologi (anemia).

Faktor Risiko
a. Usia > 60 tahun.
b. Wanita, usia >50 tahun atau menopause.
c. Kegemukan.
d. Pekerja berat dengan penggunaan satu sendi terus menerus.
e. Faktor genetik.
f. Hormon seks.
g. Infeksi tubuh.

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
Manifestasi artikular:
Pada lebih dari 3 sendi (poliartritis) terutama di sendi tangan, simetris,
immobilisasi sendi, pemendekan otot seperti pada vertebra servikalis,
gambaran deformitas sendi tangan (swan neck, boutonniere).

Manifestasi ekstraartikular:
a. Kulit: terdapat nodul rheumatoid pada daerah yg banyak menerima
    penekanan, vaskulitis.
b. Soft tissue rheumatism, seperti carpal tunnel syndrome atau frozen
    shoulder.
c. Mata dapat ditemukan kerato-konjungtivitis sicca yang merupakan
    manifestasi sindrom Sjorgen, episkleritis/ skleritis. Konjungtiva tampak
    anemia akibat penyakit kronik.
d. Sistem respiratorik dapat ditemukan adanya radang sendi
    krikoaritenoid, pneumonitis interstitial, efusi pleura, atau fibrosis paru
    luas.
e. Sistem kardiovaskuler dapat ditemukan perikarditis konstriktif,
    disfungsi katup, fenomena embolisasi, gangguan konduksi, aortritis,
    kardiomiopati.

Pemeriksaan Penunjang

LED
Pemeriksaan di layanan sekunder atau rujukan horizontal:
a. Faktor reumatoid (RF) serum.
b. Radiologi tangan dan kaki. Gambaran dini berupa pembengkakan
    jaringan lunak, diikuti oleh osteoporosis juxta-articular dan erosi pada
    bare area tulang. Keadaan lanjut terlihat penyempitan celah sendi,
    osteoporosis difus, erosi meluas sampai daerah subkondral.


sumber: http://www.myvistahealth.com/wp-content/uploads/2012/04/rheumatoid-arthritisdiet-
and-nutrition-rontgen.jpg

c. ACPA (anti-cyclic citrullinated peptide antibody) / anti-CCP.
d. CRP.
e. Analisis cairan sendi.
f. Biopsi sinovium/ nodul rheumatoid.

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis RA biasanya didasarkan pada gambaran klinis dan radiografis.

Kriteria Diagnosis
Berdasarkan ACR tahun 1987:
a. Kaku pagi, sekurangnya 1 jam.
b. Artritis pada sekurangnya 3 sendi.
c. Artritis pada sendi pergelangan tangan, metacarpophalanx (MCP) dan
    Proximal Interphalanx (PIP).
d. Artritis yang simetris.
e. Nodul rheumatoid.
f. Faktor reumatoid serum positif. Hasil positif dijumpai pada sebagian
    besar kasus (85%), sedangkan hasil negatif tidak menyingkirkan adanya
    RA.
g. Gambaran radiologik yang spesifik.
h. LED dan CRP meningkat.
i. Analisis cairan sendi: terdapat gambaran inflamasi ringan-sedang.

Untuk diagnosis RA, diperlukan 4 dari 7 kriteria tersebut di atas. Kriteria 1-4
harus minimal diderita selama 6 minggu.

Tabel 26. Sistem penilaian klasifikasi kriteria RA (American College of Rheumatology/European
League Against Rheumatism, 2010)


Catatan:
a. Kriteria tersebut ditujukan untuk klasifikasi pasien baru.
    Sebagai tambahan, pasien dengan penyakit erosif tipikal RA dengan
    riwayat yang sesuai dengan kriteria 2010 ini harus diklasifikasikan ke
    dalam RA. Pasien dengan penyakit lama, termasuk yang tidak aktif
    (dengan atau tanpa pengobatan), yang berdasarkan data retrospektif
    yang dimiliki memenuhi kriteria 2010 ini harus diklasifikasikan ke
    dalam RA.
b. Diagnosis banding bervariasi diantara pasien dengan manifestasi yang
    berbeda, tetapi boleh memasukkan kondisi seperti SLE, artritis psoriatic,
    dan gout. Jika diagnosis banding masih belum jelas, hubungi ahli
    reumatologi.
c. Walaupun pasien dengan skor < 6 dari tidak diklasifikasikan ke dalam
    RA, status mereka dapat dinilai ulang dan kriteria ini bisa dipenuhi
    secara kumulatif seiring waktu.
d. Keterlibatan sendi merujuk pada sendi yang bengkak atau nyeri pada
    pemeriksaan, yang dikonfirmasi oleh bukti pencitraan akan adanya
    sinovitis. Sendi interfalang distal, sendi karpometakarpal I, dan sendi
    metatarsofalangeal I tidak dimasukkan dalam pemeriksaan. Kategori
    distribusi sendi diklasifikasikan berdasarkan lokasi dan jumlah sendi
    yang terlibat, ditempatkan ke dalam kategori tertinggi berdasarkan pola
    keterlibatan sendi.
e. Sendi-sendi besar merujuk pada bahu, siku, pinggul, lutut, dan
    pergelangan kaki.
f. Sendi-sendi kecil merujuk pada sendi metakarpofalangeal, sendi
    interfalang proksimal, sendi metatarsophalangeal II-V, sendi interfalang
    ibu jari, dan pergelangan tangan.
g. Dalam kategori ini, minimal 1 dari sendi yg terlibat harus sendi kecil;
    sendi lainnya dapat berupa kombinasi dari sendi besar dan sendi kecil
    tambahan, seperti sendi lainnya yang tidak terdaftar secara spesifik
    dimanapun (misal temporomandibular, akromioklavikular,
    sternoklavikular dan lain-lain).
h. Negatif merujuk pada nilai IU yg ≤ batas atas nilai normal (BAN)
    laboratorium dan assay; positif rendah merujuk pada nilai IU yang ≥
    BAN tetapi ≤ 3x BAN laboratorium dan assay; positif tinggi merujuk
    pada nilai IU yg > 3x BAN laboratorium dan assay. Ketika RF hanya
    dapat dinilai sebagai positif atau negatif, hasil positif harus dinilai
    sebagai positif rendah untuk RA. ACPA = anti-citrullinated protein
    antibody.
i. Normal/ tidak normal ditentukan oleh standar laboratorium setempat.
   CRP = C-reactive protein; LED = Laju Endap Darah.
j. Durasi gejala merujuk pada laporan dari pasien mengenai durasi gejala
    dan tanda sinovitis (misal nyeri, bengkak, dan nyeri pada penekanan)
   dari sendi yang secara klinis terlibat pada saat pemeriksaan, tanpa
    memandang status pengobatan.

Diagnosis Banding

a. Penyebab arthritis lainnya
b. Spondiloartropati seronegatif
c. Lupus eritematosus sistemik
d. Sindrom Sjogren

Komplikasi

a. Deformitas sendi (boutonnierre, swan neck, deviasi ulnar)
b. Sindrom terowongan karpal (TCS)
c. Sindrom Felty (gabungan gejala RA, splenomegali, leukopenia, dan ulkus
    pada tungkai; juga sering disertai limfadenopati dan trombositopenia)

Rencana Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
a. Pasien diberikan informasi untuk memproteksi sendi, terutama pada
    stadium akut dengan menggunakan decker.
b. Pemberian obat anti inflamasi non-steroid, seperti: diklofenak 50-100 mg
    2x/hari, meloksikam 7,5–15 mg/hari, celecoxib 200-400 mg/sehari.
c. Pemberian golongan steroid, seperti: prednison atau metil prednisolon
    dosis rendah (sebagai bridging therapy).
d. Fisioterapi, tatalaksana okupasi, bila perlu dapat diberikan ortosis.

Kriteria rujukan

a. Tidak membaik dengan pemberian obat anti inflamasi dan steroid dosis
    rendah.
b. RA dengan komplikasi.
c. Rujukan pembedahan jika terjadi deformitas.

Sarana Prasarana

Laboratorium sederhana untuk pemeriksaan darah.

Prognosis

Prognosis adalah dubia ad bonam, sangat tergantung dari perjalanan penyakit
dan penatalaksanaan selanjutnya.



 sumber gambar :http://www.rheumtutor.com/wp-content/uploads/2013/06/Rheumatoid-Arthritis-1e.jpg

No comments:

Post a comment

Follow by Email