Friday, 26 September 2014

FRAKTUR TERTUTUP

Fraktur Tertutup

No. ICPC II : L76 fracture other
No.ICD X : T14. Fracture of unspecified body
Tingkat Kemampuan: 3B

Masalah Kesehatan

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang
rawan epifisis baik yang bersifat total maupun parsial. Fraktur tertutup adalah
suatu fraktur yang tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
  a. Adanya riwayat trauma (terjatuh, kecelakaan, dll)
  b. Nyeri
  c. Sulit digerakkan
  d. Deformitas
  e. Bengkak
  f. Perubahan warna
  g. Gangguan sensibilitas
  h. Kelemahan otot
Faktor Risiko : -

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana(Objective)

Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi (look)
   Adanya deformitas dari jaringan tulang, namun tidak menembus kulit.
   Anggota tubuh tdak dapat digerakkan.
b. Palpasi (feel)
   1. Teraba deformitas tulang jika dibandingkan dengan sisi yang sehat.
   2. Nyeri tekan.
   3. Bengkak.
   4. Mengukur panjang anggota gerak lalu dibandingkan dengan sisi yang
       sehat.
c. Gerak (move)
  Umumnya tidak dapat digerakkan

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan berikut dapat dilakukan di layanan sekunder
a. Pemeriksaan radiologi,berupa:
   1. Foto polos: umumnya dilakukan pemeriksaan dalam proyeksi AP dan
       lateral.
   2. Pemeriksaan radiologi lainnya sesuai indikasi dapat dilakukan
       pemeriksaan berikut, antara lain: radioisotope scanning tulang,
       tomografi, artrografi, CT-scan, dan MRI.
b. Pemeriksaan darah rutin dan golongan darah.

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
penunjang.

Diagnosis Banding:
Komplikasi : Kompartemen syndrom

Rencana Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan dapat dilakukan dengan:
a. Semua fraktur dikelola secara emergensi.
b. Lakukan penilaian awal akan adanya cedera lain yang dapat
    mengancam jiwa.
c. Pasang cairan untuk mengantisipasi kehilangan darah yang tidak
    terlihat misalnya pada fraktur pelvis dan fraktur tulang panjang
d. Lakukan stabilisasi fraktur dengan spalk, waspadai adanya tanda-tanda
    kompartemen syndrome seperti odema, kulit yang mengkilat dan adanya
    nyeri tekan.
e. Rujuk segera ke layanan sekunder

Kriteria Rujukan : pasien segera dirujuk ke RS

Sarana Prasarana
  a. Alat untuk memeriksa tanda vital (tensi, stetoskop, thermometer)
  b. Pensil untuk kulit (marker)
  c. Meteran
  d. Kapas
  e. Jarum kecil
  f. Senter saku
  g. Goniometer

Prognosis

Prognosis umumnya bonam, namun quo ad fungsionamnya adalah dubia ad
bonam.Hal ini bergantung kepada kecepatan dan ketepatan tindakan yang
dilakukan.

Thursday, 18 September 2014

PATAH TULANG TERBUKA

Fraktur Terbuka


No. ICPC II : L76 fracture other
No. ICD X : T14. Fracture of unspecified body
Tingkat Kemampuan: 3B

Masalah Kesehatan

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang
rawan epifisis baik yang bersifat total maupun parsial.
Fraktur terbuka adalah suatu fraktur dimana terjadi hubungan dengan
lingkungan luar melalui kulit sehingga terjadi kontaminasi bakteri sehingga
timbul komplikasi berupa infeksi.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
a. Adanya patah tulang terbuka setelah terjadinya trauma
b. Nyeri
c. Sulit digerakkan
d. Deformitas
e. Bengkak
f. Perubahan warna
g. Gangguan sensibilitas
h. Kelemahan otot

Faktor Risiko : -

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi (look)
   Adanya luka terbuka pada kulit yang dapat berupa tusukan tulang yang
   tajam keluar menembus kulit atau dari luar oleh karena tertembus,
   misalnya oleh peluru atau trauma langsung dengan fraktur yang
   terpapar dengan dunia luar.
b. Palpasi (feel)
   1. Robekan kulit yang terpapar dunia luar
   2. Nyeri tekan
   3. Terabanya jaringan tulang yang menonjol keluar
   4. Adanya deformitas
   5. Panjang anggota gerak berkurang dibandingkan sisi yang sehat
c. Gerak (move)
   Umumnya tidak dapat digerakkan

Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan radiologi,berupa:
  1. Foto polos:
     Umumnya dilakukan pemeriksaan dalam proyeksi AP dan lateral
  2. Pemeriksaan radiologi lainnya sesuai indikasi dapat dilakukan
     pemeriksaan berikut, antara lain: radioisotope scanning tulang,
     tomografi, artrografi, CT-scan, dan MRI
b. Pemeriksaan darah rutin dan golongan darah, untuk menilai kebutuhan
penambahan darah, memantau tanda-tanda infeksi.

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis klinis
Diagnosis ditegakkan berdasar anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang.

Klasifikasi

 
Fraktur terbuka dibagi menjadi tiga kelompok:
a. Grade I
    1. Fraktur terbuka dengan luka kulit kurang dari 1 cm dan bersih
    2. Kerusakan jaringan minimal, frakturnya simple atau oblique dan
        sedikit kominutif .
b. Grade II
    1. Fraktur terbuka dengan luka robek lebih dari 1 cm, tanpa ada
        kerusakan jaringan lunak,
    2. Flap kontusio avulsi yang luas serta fraktur kominutif sedang dan
        kontaminasi sedang.
c. Grade III
    Fraktur terbuka segmental atau kerusakan jaringan lunak yang luas
    atau amputasi traumatic, derajad kontaminasi yang berat dan trauma
    dengan kecepatan tinggi.
    Fraktur grade III dibagi menjadi tiga, yaitu:
    1. Grade IIIa : Fraktur segmental atau sangat kominutif penutupan
        tulang dengan jaringan lunak cukup adekuat.
    2. Grade IIIb : Trauma sangat berat atau kehilangan jaringan lunak
        yang cukup luas, terkelupasnya daerah periosteum dan
        tulang tampak terbuka, serta adanya kontaminasi yang
       cukup berat.
   3. Grade IIIc : Fraktur dengan kerusakan pembuluh darah.
Diagnosis Banding : -

Komplikasi
a. Perdarahan, syok septik sampai kematian
b. Septikemia, toksemia oleh karena infeksi piogenik
c. Tetanus
d. Gangren
e. Perdarahan sekunder
f. Osteomielitis kronik
g. Delayed union
h. Nonunion dan malunion
i. Kekakuan sendi
j. Komplikasi lain oleh karena perawatan yang lama

Rencana Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Prinsip penanganan fraktur terbuka
a. Semua fraktur terbuka dikelola secara emergensi.
b. Lakukan penilaian awal akan adanya cedera lain yang dapat
    mengancam jiwa.
c. Lakukan irigasi luka
d. Lakukan stabilisasi fraktur
e. Pasang cairan dan berikan antibiotika intravena yang sesuai dan
    adekuat misalnya setriakson dan segera rujuk ke layanan sekunder.





Penatalaksanaan
a. Pembersihan terhadap luka fraktur, dengan cara irigasi dengan NaCl
    fisiologis secara mekanis untuk mengeluarkan benda asing yang
    melekat.
b. Balut luka untuk menghentikan perdarahan, pada fraktur dengan
    tulang menonjol keluar sedapat mungkin dihindari memasukkan
    komponen tulang tersebut kembali ke dalam luka.
c. Fraktur dengan luka yang berat memerlukan suatu traksi skeletal.
    Fraktur grade II dan III sebaiknya difiksasi dengan fiksasi eksterna. Alat
    sederhana yang bisa digunakan dalam
d. Pemberian antibiotika: merupakan cara efektif mencegah terjadinya
    infeksi pada fraktur terbuka. Antibiotika yang diberikan sebaiknya
    dengan dosis yang besar. Untuk fraktur terbuka antibiotika yang
    dianjurkan adalah golongan cephalosporin, dan dikombinasi dengan
    golongan aminoglikosida.
e. Pencegahan tetanus: Semua penderita dengan fraktur terbuka perlu
    diberikan pencegahan tetanus. Pada penderita yang telah mendapat
    imunisasi aktif cukup dengan pemberian toksoid tapi bagi yang belum,
    dapat diberikan 250 unit tetanus imunoglobulin (manusia).
    Pasien segera dirujuk setelah kondisi lebih stabil.

Kriteria Rujukan

Langsung dirujuk dengan tetap mengawasi tanda vital dan memberikan
penanganan awal.

Sarana Prasarana

a. Alat untuk memeriksa tanda vital (tensi, stetoskop, thermometer)
b. Meteran
c. Perban
d. Spalk

Prognosis

Prognosis quo ad fungsionam adalah dubia ad bonam, tergantung pada
kecepatan dan ketepatan tindakan yang dilakukan.




Sumber gambar : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjIEL-QzSIHH7UyanQmvpMqKjsgoOQ_sJYk0jsTkI235yjaL7npMZWnU2Y0PRikbYJC1FrM4NzJNHKcBRsoZdGa9zX4x3LXsVqJEjABlNIjZztzwYs9UEGkELAD2oH6FHospw_CP1n-WnK1/s1600/Patah+Tulang+Terbuka-Tertutup.jpg


 
http://endrosambodo1984.files.wordpress.com/2012/03/picture27.png

Wednesday, 3 September 2014

INFARK SEREBRAL/STROKE

Infark Serebral/Stroke


 
No. ICPC II : K90 Stroke/cerebrovascular accident
No. ICD X : I63.9 Cerebral infarction, unspecified
Tingkat Kemampuan: 3B

Masalah Kesehatan

Stroke adalah defisit neurologis fokal yang terjadi mendadak, lebih dari 24 jam
dan disebabkan oleh faktor vaskuler. Berdasarkan Riskesdas 2007, stroke
merupakan penyebab kematian yang utama di Indonesia.

Hasil Anamnesis(Subjective)

Keluhan
Keluhan mendadak berupa:
a. Kelumpuhan anggota gerak satu sisi (hemiparesis)
b. Gangguan sensorik satu sisi tubuh
c. Hemianopia (buta mendadak)
d. Diplopia
e. Vertigo
f. Afasia
g. Disfagia
h. Disarthria
i. Ataksia
j. Kejang atau penurunan kesadaran

Untuk memudahkan digunakan istilah FAST (facial movement, Arm Movement,
Speech, Test all three).

Faktor Risiko
a. Faktor risiko yang tidak bisa dimodifikasi
   1. Usia
   2. Jenis kelamin
   3. Genetik
b. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi
   1. Hipertensi
   2. DM
   3. Penyakit jantung
   4. Dislipidemia
   5. Merokok
   6. Pernah mengalami TIA atau stroke
   7. Polisitemia
   8. Obesitas
   9. Kurang olahraga
 10. Fibrinogen tinggi

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan tanda vital
   1. Pernapasan
   2. Nadi
   3. Suhu
   4. Tekanan darah harus diukur kanan dan kiri
b. Pemeriksaaan jantung paru
c. Pemeriksaan bruitkarotis
d. Pemeriksaan abdomen
e. Pemeriksaan ekstremitas
f. Pemeriksaan neurologis
   1. Kesadaran : kualitatif dan kuantitatif (Glassgow Coma Scale = GCS)
   2. Tanda rangsang meningeal : kaku kuduk, lasseque, kernig, brudzinsky
   3. Saraf kranialis: sering mengenai nervus VII, XII, IX walaupun nervus
       kranialis lain bisa terkena
4. Motorik : kekuatan, tonus, refleks fisiologis, refleks patologis
5. Sensorik
6. Pemeriksaan fungsi luhur
7. Pada pasien dengan kesadaran menurun, perlu dilakukan
    pemeriksaan refleks batang otak:
    • Refleks kornea
    • Refleks pupil terhadap cahaya
    • Refleks okulo sefalik
    • Keadaan refleks respirasi

Pemeriksaan Penunjang : -

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Klasifikasi
Stroke dibedakan menjadi:
a. Stroke hemoragik biasanya disertai dengan sakit kepala hebat, muntah,
    penurunan kesadaran, tekanan darah tinggi.



b. Stroke iskemik biasanya tidak disertai dengan sakit kepala hebat,
    muntah, penurunan kesadaran dan tekanan darah tidak tinggi.

Diagnosis Banding

Membedakan stroke iskemik dan stroke hemoragik sangat penting untuk
penatalaksanaan pasien.

Komplikasi

Umumnya komplikasi terjadi jika interval serangan stroke dengan
pemeriksaan atau kunjungan ke pelayanan primer terlambat. Komplikasi yang
biasanya ditemukan adalah dehidrasi, pneumonia, ISK.

Rencana Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

 
Penatalaksanaan
a. Stabilisasi pasien dengan tindakan ABC.
b. Pertimbangkan intubasi jika kesadaran stupor atau koma atau gagal nafas.
c. Pasang jalur infus IV dengan larutan NaCl 0,9% dengan kecepatan 20
    ml/jam (jangan memakai cairan hipotonis seperti dekstrosa 5% dalam
    air dan SALIN 0,45% karena dapat memperhebat edema otak).
d. Berikan O2: 2-4 liter/menit via kanul hidung.
e. Jangan memberikan makanan atau minuman lewat mulut.

Stroke Hemoragik
a. Menurunkan tekanan darah untuk mencegah perdarahan ulang pada
   orang yang dasarnya normotensif (tensi normal) diturunkan sampai
   sistolik 160 mmHg, pada orang dengan hipertensi sedikit lebih tinggi.
b. Tekanan dalam rongga tengkorak diturunkan dengan cara meninggikan
    posisi kepala 15-30% (satu bantal) sejajar dengan bahu
    Pasien dirujuk setelah kondisi lebih stabil.

Rencana Tindak Lanjut

a. Memodifikasi gaya hidup sehat
    1. Memberi nasehat untuk tidak merokok atau menghindari lingkungan
        perokok
    2. Menghentikan atau mengurangi konsumsi alkohol
    3. Mengurangi berat badan pada penderita stroke yang obes
    4. Melakukan aktivitas fisik sedang pada pasien stroke iskemik atau
        TIA. Intensitas sedang dapat didefinisikan sebagai aktivitas fisik yang
        cukup berarti hingga berkeringat atau meningkatkan denyut jantung
        1-3 kali perminggu.
b. Mengontrol faktor risiko
    1. Tekanan darah
    2. Gula darah pada pasien DM
    3. Kolesterol
    4. Trigliserida
    5. Jantung
c. Pada pasien stroke iskemik diberikan obat-obat antiplatelet: asetosal,
klopidogrel

Konseling dan Edukasi
a. Mengedukasi keluarga agar membantu pasien untuk tidak terjadinya
    serangan kedua.
b. Jika terjadi serangan berikutnya segera mendatangi pelayanan primer.
c. Mengawasi agar pasien teratur minum obat.
d. Membantu pasien menghindari faktor risiko.

Kriteria Rujukan

Semua pasien stroke setelah ditegakkan diagnosis dan diberikan penanganan
awal selanjutnya dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan sekunder yang
memiliki dokter spesialis saraf.

Sarana Prasarana

a. Alat pemeriksaan neurologis.
b. Infus set.
c. Oksigen.
d. Obat antiplatelet.

Prognosis

Prognosis adalah dubia, tergantung luas dan letak lesi. Untuk stroke
hemorrhagic sebagian besar dubia ad malam.

CARDIORESPIRATORY ARREST

Cardiorespiratory Arrest



No. ICPC II : K80 cardiac arrhytmia NOS
No. ICD X :
Tingkat Kemampuan: 3B

Masalah Kesehatan

Cardiorespiratory Arrest (CRA) adalah kondisi kegawatdaruratan karena
berhentinya aktivitas jantung paru secara mendadak yang mengakibatkan
kegagalan sistem sirkulasi. Hal ini disebabkan oleh malfungsi mekanik
jantung paru atau elektrik jantung. Kondisi yang mendadak dan berat ini
mengakibatkan kerusakan organ.

Henti napas dapat mengakibatkan penurunan tekanan oksigen arteri,
menyebabkan hipoksia otot jantung yang menyebabkan henti jantung.
Henti jantung adalah konsekuensi dari aktivitas otot jantung yang tidak
terkoordinasi. Dengan EKG, ditunjukkan dalam bentuk Ventricular Fibrillation
(VF). Satu menit dalam keadaan persisten VF, aliran darah koroner menurun
hingga tidak ada sama sekali. Dalam 4 menit, aliran darah katoris tidak ada
sehingga menimbulkan kerusakan neurologi secara permanen.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Pasien dibawa karena pingsan mendadak dengan henti jantung dan paru.
Sebelumnya, dapat ditandai dengan fase prodromal berupa nyeri dada, sesak,
berdebar dan lemah (detik – 24 jam). Kemudian, pada awal kejadian, pasien
mengeluh pusing dan diikuti dengan hilangnya sirkulasi dan kesadaran (henti
jantung) yang dapat terjadi segera sampai 1 jam.

Hal yang perlu ditanyakan kepada keluarga pasien adalah untuk mencari
penyebab terjadinya CRA antara lain oleh:
5 H (hipovolemia, hipoksia, hidrogen ion = asidosis, hiper atau hipokalemia
dan hipotermia) dan 
5 T (tension pneumothorax, tamponade, tablet = overdosis
obat, trombosis koroner, dan thrombosis pulmoner), tersedak, tenggelam,
gagal jantung akut, emboli paru, atau keracunan karbon monoksida.

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan tanda vital ditemukan: pasien tidak sadar, tidak ada nafas,
tidak teraba nafas, tidak teraba denyut nadi di arteri-arteri besar (karotis dan
femoralis).

Pemeriksaan Penunjang
EKG
Gambaran EKG biasanya menunjukkan gambaran VF (Ventricular Fibrillation).
Selain itu dapat pula terjadi asistol, yang survival rate-nya lebih rendah
daripada VF.
 

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Rekam Medik
Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik. Anamnesis berguna
untuk mengidentifikasi penyebabnya.

Diagnosis banding: -

Komplikasi

Konsekuensi dari kondisi ini adalah hipoksia ensefalopati, kerusakan
neurologi permanen dan kematian.

Rencana Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
Melakukan resusitasi jantung paru pada pasien.
Pemeriksaan Penunjang Lanjutan
Pemeriksaan darah rutin dan kimia darah

Konseling dan Edukasi
a. Memberitahu keluarga mengenai kondisi pasien dan tindak lanjut dari
tindakan yang telah dilakukan, serta meminta keluarga untuk tetap
tenang dan tabah menemani pasien pada kondisi tersebut.
b. Memberitahu keluarga untuk melakukan pola hidup sehat seperti
mengurangi konsumsi makanan berlemak, menghentikan konsumsi
rokok dan alkohol, menjaga berat badan ideal, mengatur pola makan,
melakukan olah raga ringan secara teratur.

Rencana Tindak Lanjut
Monitor selalu kondisi pasien hingga dirujuk ke spesialis.

Kriteria rujukan

Pasien dirujuk ke spesialis berdasarkan kemungkinan penyebab (SpPD, SpJP
atau SpB, dan seterusnya) untuk tatalaksana lebih lanjut.

Sarana Prasarana

a. Elektrokardiografi (EKG)
b. Alat intubasi
c. Defibrilator
d. Tabung oksigen
e. Obat-obatan

Prognosis

Prognosis umumnya dubia ad malam, tergantung pada waktu dilakukannya
penanganan medis.



Sumber gambar:
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgG-3EyRn0_Btwys98OA-w825U8fsGBruoEcqAJO0H8WP2YfzYu2BiWjEs2Rz1WrUnfeFxQz2rth-dQ9hcMiiW-cZN7Wa5JITTh0OGfvOfIp30EtrisuoCh9bE5AZWApu14qxUAiPAxtT8/s1600/VF.jpg
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/2/20/US_Navy_040421-N-8090G-001_Hospital_Corpsman_3rd_Class_Flowers_administers_chest_compressions_to_a
_simulated_cardiac_arrest_victim.jpg

Friday, 4 July 2014

HIPERTENSI ESENSIAL

Hipertensi Esensial


No ICPC II : K86 Hypertension uncomplicated
No ICD X : I10 Essential (primary) hypertension
Tingkat Kemampuan: 4A

Masalah Kesehatan

Hipertensi adalah kondisi terjadinya peningkatan tekanan darah sistolik lebih
dari ≥ 140 mmHg dan atau diastolik ≥ 90 mmHg.
Kondisi ini sering tanpa gejala. Peningkatan tekanan darah yang tidak
terkontrol dapat mengakibatkan komplikasi, seperti stroke, aneurisma, gagal
jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Mulai dari tidak bergejala sampai dengan bergejala.
Keluhan hipertensi antara lain: sakit/nyeri kepala, gelisah, jantung berdebardebar,
pusing, leher kaku, penglihatan kabur, dan rasa sakit di dada.Keluhan
tidak spesifik antara lain tidak nyaman kepala, mudah lelah dan impotensi.

Faktor Risiko
Faktor risiko dibedakan dalam 2 kelompok, yaitu kelompok yang dapat
dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi.

Hal yang tidak dapat dimodifikasi adalah umur, jenis kelamin, riwayat
hipertensi dan penyakit kardiovaskular dalam keluarga.

Hal yang dapat dimodifikasi, yaitu:
  a. Riwayat pola makan (konsumsi garam berlebihan).
  b. Konsumsi alkohol berlebihan.
  c. Aktivitas fisik kurang.
  d. Kebiasaan merokok.
  e. Obesitas.
  f. Dislipidemia.
  g. Diabetus Melitus.
  h. Psikososial dan stres.

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
Pasien tampak sehat, dapat terlihat sakit ringan-berat.
Tekanan darah meningkat (sesuai kriteria JNC VII).
Nadi tidak normal.
Pada pasien denganhipertensi, wajib diperiksa status neurologis, akral, dan pemeriksaan fisik
jantungnya (JVP, batas jantung, dan rochi).

Pemeriksaan Penunjang
   Urinalisis (proteinuri atau albuminuria),
   tes gula darah,
   tes kolesterol (profil lipid),
   ureum kreatinin, f
   unduskopi,
   EKG dan
   foto thoraks.

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Tabel 23. Klasifikasi tekanan darah berdasarkan Joint National Committee VII (JNC VII)


Diagnosis Banding
a. Proses akibat white coat hypertension.
b. Proses akibat obat.
c. Nyeri akibat tekanan intraserebral.
d. Ensefalitis.

Rencana Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
Peningkatan tekanan darah dapat dikontrol dengan perubahan gaya hidup.










 

Pemberian obat anti hipertensi merupakan pengobatan jangka panjang.
Kontrol pengobatan dilakukan setiap 2 minggu atau 1 bulan untuk
mengoptimalkan hasil pengobatan.
a. Hipertensi tanpa compelling indication
   1. Hipertensi stage-1 dapat diberikan diuretik (HCT 12.5-50 mg/hari,
       furosemid 2x20-80 mg/hari), atau pemberian penghambat ACE
      (captopril 2x25-100 mg/hari atau enalapril 1-2 x 2,5-40 mg/hari),
      penyekat reseptor beta (atenolol 25-100mg/hari dosis tunggal),
      penghambat kalsium (diltiazem extended release 1x180-420 mg/hari,
      amlodipin 1x2,5-10 mg/hari, atau nifedipin long acting 30-60
      mg/hari) atau kombinasi.
   2. Hipertensi stage-2.
   3. Bila target terapi tidak tercapai setelah observasi selama 2 minggu,
      dapat diberikan kombinasi 2 obat, biasanya golongan diuretik, tiazid
      dan penghambat ACE atau antagonis reseptor AII (losartan 1-2 x 25-
      100 mg/hari) atau penyekat reseptor beta atau penghambat kalsium.
   4. Pemilihan anti hipertensi didasarkan ada tidaknya kontraindikasi
      dari masing-masing antihipertensi diatas.Sebaiknya pilih obat
      hipertensi yang diminum sekali sehari atau maksimum 2 kali sehari.
b. Hipertensi compelling indication (lihat tabel)
   Bila target tidak tercapai maka dilakukan optimalisasi dosis atau
   ditambahkan obat lain sampai target tekanan darah tercapai (kondisi
   untuk merujuk ke Spesialis).
   Tabel 25. Hipertensi compelling indication


c. Kondisi khusus lain
1. Obesitas dan sindrom metabolik
    Lingkar pinggang laki-laki >90 cm/perempuan >80 cm. Tolerasi
    glukosa terganggu dengan GDP ≥ 110 mg/dl, tekanan darah minimal
    130/85 mmHg, trigliserida tinggi ≥150 mg/dl, kolesterol HDL rendah
    <40 mg/dl (laki-laki) dan <50 mg/dl (perempuan)
    Modifikasi gaya hidup yang intensif dengan terapi utama ACE, pilihan
    lain reseptor AII, penghambat calsium dan penghambat Ω.
2. Hipertrofi ventrikel kiri
    Tatalaksana tekanan darah agresif termasuk penurunan berat badan,
    restriksi asupan natrium dan terapi dengan semua kelas
    antihipertensi kecuali vasodilator langsung, yaitu hidralazin dan
    minoksidil.
3. Penyakit Arteri Perifer
    Semua kelas antihipertensi, tatalaksana faktor risiko dan pemberian
    aspirin.
4. Lanjut Usia
    Diuretik (tiazid) mulai dosis rendah 12,5 mh/hari.
    Obat hipertensi lain mempertimbangkan penyakit penyerta.
5. Kehamilan
    Golongan metildopa, penyekat reseptor β, antagonis kalsium,
    vasodilator.
    Penghambat ACE dan antagonis reseptor AII tidak boleh digunakan
    selama kehamilan.


Konseling dan Edukasi
Edukasi individu dan keluarga tentang pola hidup sehat untuk mencegah dan
mengontrol hipertensi seperti:
a. Gizi seimbang dan pembatasan gula, garam dan lemak (Dietary
Approaches To Stop Hypertension).
b. Mempertahankan berat badan dan lingkar pinggang ideal.
c. Gaya hidup aktif/olah raga teratur.
d. Stop merokok.
e. Membatasi konsumsi alkohol (bagi yang minum).
Edukasi tentang cara minum obat di rumah, perbedaan antara obat-obatan
yang harus diminum untuk jangka panjang (misalnya untuk mengontrol
tekanan darah) dan pemakaian jangka pendek untuk menghilangkan gejala
(misalnya untuk mengatasi mengi), cara kerja tiap-tiap obat, dosis yang
digunakan untuk tiap obat dan berapa kali minum sehari.
Penjelasan penting lainnya adalah tentang pentingnya menjaga kecukupan
pasokan obat-obatan dan minum obat teratur seperti yang disarankan
meskipun tak ada gejala.Individu dan keluarga perlu diinformasikan juga agar melakukan pengukuran
kadar gula darah, tekanan darah dan periksa urin secara teratur. Pemeriksaan
komplikasi hipertensi dilakukan setiap 6 bulan atau minimal 1 tahun sekali.

Komplikasi

Hipertrofi ventrikel kiri, proteinurea dan gangguan fungsi ginjal,aterosklerosis
pembuluh darah, retinopati, stroke atau TIA, infark myocard, angina pectoris,
serta gagal jantung

Kriteria rujukan

a. Hipertensi dengan komplikasi.
b. Resistensi hipertensi.
c. Krisis hipertensi (hipertensi emergensi dan urgensi).

Sarana Prasarana

a. Laboratorium untuk melakukan pemeriksaan urinalisis, glukometer dan
    profil lipid.
b. EKG.
c. Radiologi.
d. Obat-obat antihipertensi.

Prognosis

Prognosis umumnya bonam apabila terkontrol

Thursday, 3 July 2014

GAGAL JANTUNG AKUT DAN KRONIK

Gagal Jantung Akut dan Kronik

 
No. ICPC II : K77 Heart failure
No. ICD X : I50.9
Tingkat Kemampuan:
a. Gagal jantung akut 3B
b. Gagal jantung kronik 3A
Masalah Kesehatan
Gagal jantung (akut dan kronik) merupakan masalah kesehatan yang
menyebabkan penurunan kualitas hidup, tingginya rehospitalisasi karena
kekambuhan yang tinggi dan peningkatan angkan kematian.
Angka Morbiditas Penyakit: prevalensi kasus gagal jantung di komunitas
meningkat seiring dengan meningkatnya usia: 0,7 % (40-45 tahun), 1,3 % (55-64
tahun), dan 8,4 % (75 tahun ke atas). Lebih dari 40% pasien kasus gagal jantung
memiliki ejeksi fraksi lebih dari 50%. Pada usia 40 tahun, risiko terjadinya gagal
jantung sekitar 21% untuk lelaki dan 20.3 % pada perempuan.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
   a. Sesak pada saat beraktifitas (dyspneu d’effort)
   b. Gangguan napas pada perubahan posisi (ortopneu)
   c. Sesak napas malam hari (paroxysmal nocturnal dyspneu)
Keluhan tambahan: lemas, mual, muntah dan gangguan mental pada
orangtua

Faktor Risiko
  a. Hipertensi
  b. Dislipidemia
  c. Obesitas
  d. Merokok
  e. Diabetes melitus
  f. Riwayat gangguan jantung sebelumnya
  g. Riwayat infark miokard

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana (Objective)

 
Pemeriksaan Fisik:
  a. Peningkatan tekanan vena jugular (vena di leher kelihatan besar)
     
  b. Frekuensi pernapasan meningkat
  c. Frekuensi nadi dan regularitasnya
  d. Tekanan darah
  e. Kardiomegali (pembesaran jantung)
  f. Gangguan bunyi jantung (gallop)
  g. Ronkhi pada pemeriksaan paru (karena ada penumpukan cairan di paru)
  h. Hepatomegali (pembesaran hati)
  i. Asites (penimbunan cairan di perut sehingga perut membesar/buncit)
  j. Edema perifer (pembengkakan pada kaki dan atau tangan)

    
Pemeriksaan penunjang esential
a. Rontgen thoraks (kardiomegali, gambaran edema paru/alveolar
    edema/butterfly appearance)
b. EKG (hipertrofi ventrikel kiri, atrial fibrilasi, perubahan gelombang T,
    dan gambaran abnormal lainnya.
c. Darah perifer lengkap

Penegakan Diagnosis (Assessment)
Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan kriteria Framingham: minimal 1 kriteria
mayor dan 2 kriteria minor.

Kriteria Mayor:
  a. Sesak napas tiba-tiba pada malam hari (paroxysmal nocturnal dyspneu)
  b. Distensi vena-vena leher
  c. Peningkatan tekanan vena jugularis
  d. Ronkhi
  e. Terdapat kardiomegali
  f. Edema paru akut
  g. Gallop (S3)
  h. Refluks hepatojugular positif

Kriteria Minor:
  a. Edema ekstremitas
  b. Batuk malam
  c. dyspneu d’effort (sesak ketika beraktifitas)
  d. Hepatomegali
  e. Efusi pleura
  f. penurunan kapasitas vital paru sepertiga dari normal
  g. takikardi >120 kali per menit

Diagnosis Banding
a. Penyakit paru: obstruktif kronik (PPOK), asma, pneumonia, infeksi paru
    berat (ARDS), emboli paru
b. Penyakit Ginjal: Gagal ginjal kronik, sindrom nefrotik
c. Penyakit Hati: sirosis hepatik

Komplikasi

a. Syok Kardiogenik
b. Gangguan keseimbangan elektrolit

Rencana Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
a. Modifikasi gaya hidup:
   1. Pembatasan asupan cairan maksimal 1,5 liter (ringan), maksimal 1
       liter (berat)
   2. Pembatasan asupan garam maksimal 2 gram/hari (ringan), 1
       maksimal gram (berat)
   3. Berhenti merokok dan konsumsi alkohol
b. Aktivitas fisik:
   1. Pada kondisi akut berat: tirah baring
   2. Pada kondisi sedang atau ringan: batasi beban kerja sampai 70% sd
       80% dari denyut nadi maksimal (220/ umur)
c. Penatalaksanaan farmakologi:
   Pada gagal jantung akut:
   1. Terapi oksigen 2-4 ltr/mnt
   2. Pemasangan iv line untuk akses dilanjutkan dengan pemberian
       furosemid injeksi 20 s/d 40 mg bolus.
   3. Cari pemicu gagal jantung akut.
   4. Segera rujuk.

   Pada gagal jantung kronik:
   1. Diuretik: diutamakan Lup diuretik (furosemid) bila perlu dapat
       dikombinasikan Thiazid (HCT), bila dalam 24 jam tidak ada respon
       rujuk ke Layanan Sekunder.
   2. ACE Inhibitor (ACE-I) atau Angiotensine II receptor blocker (ARB)
       mulai dari dosis terkecil dan titrasi dosis sampai tercapai dosis yang
       efektif dalam beberapa minggu. Bila pengobatan sudah mencapai
       dosis maksimal dan target tidak tercapai, dirujuk.
   3. Beta Blocker (BB): mulai dari dosis terkecil dan titrasi dosis sampai
       tercapai dosis yang efektif dalam beberapa minggu. Bila pengobatan
      sudah mencapai dosis maksimal dan target tidak tercapai, dirujuk.
      Digoxin diberikan bila ditemukan fibrilasi atrial untuk menjaga denyut nadi
      tidak terlalu cepat.

Konseling dan Edukasi
a. Edukasi tentang penyebab dan faktor risiko penyakit gagal jantung
    kronik. Penyebab gagal jantung kronik yang paling sering adalah tidak
    terkontrolnya tekanan darah, kadar lemak atau kadar gula darah.
b. Pasien dan keluarga perlu diberitahu tanda-tanda kegawatan
    kardiovaskular dan pentingnya untuk kontrol kembali setelah
    pengobatan di rumah sakit.
c. Patuh dalam pengobatan yang telah direncanakan.
d. Menjaga lingkungan sekitar kondusif untuk pasien beraktivitas dan
    berinteraksi.
e. Melakukan konferensi keluarga untuk mengidentifikasi faktor-faktor
    pendukung dan penghambat penatalaksanaan pasien, serta
    menyepakati bersama peran keluarga pada masalah kesehatan pasien.

Kriteria Rujukan

Pasien dengan gagal jantung harus dirujuk ke fasilitas peayanan kesehatan
sekunder yang memiliki dokter spesialis jantung atau Sp. Penyakit Dalam
untuk perawatan maupun pemeriksaan lanjutan seperti ekokardiografi.
Pada kondisi akut, dimana kondisi klinis mengalami perburukan dalam waktu
cepat harus segera dirujuk Layanan Sekunder (Sp. Jantung/Sp. Penyakit
Dalam) untuk dilakukan penanganan lebih lanjut.

Sarana Prasarana

a. Oksigen
b. Digitalis
c. ACE Inhibitor
d. Diuretik

Prognosis

Tergantung dari berat ringannya penyakit.




Sumber gambar :
 http://38.media.tumblr.com/tumblr_lrp217slDO1qk3rzjo1_500.jpg
 http://37.media.tumblr.com/tumblr_lyg0ryQTpL1qcwvfzo1_500.jpg
 http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/4/4d/Elevated_JVP.JPG
 http://www.ganfyd.org/images/a/a2/CXR_pulmonary_oedema.jpg






Saturday, 28 June 2014

TAKIKARDI (DENYUT JANTUNG CEPAT)

Takikardia


No. ICPC II : K79 Paroxysmal Tachicardy
No. ICD X : R00.0 Tachicardy Unspecified
I47.1 Supraventicular Tachicardy
I47.2 Ventricular Tachicardy
Tingkat Kemampuan: 3B

Masalah Kesehatan

Takikardi adalah suatu kondisi dimana denyut jantung istirahat seseorang
secara abnormal lebih dari 100 kali per menit. Sedangkan Supraventikular
Takikardi (SVT) adalah takikardi yang berasal dari sumber di atas ventrikel
(atrium), dengan ciri gelombang QRS sempit(< 0,12ms) dan frekuensi lebih dari
150 kali per menit.
Ventrikular Takikardi (VT) adalah takikardi yang berasal dari ventrikel,
dengan ciri gelombang QRS lebar (> 0,12ms) dan frekuensi biasanya lebih dari
150 kali per menit. VT ini bisa menimbulkan gangguan hemodinamik yang
segera memerlukan tindakan resusitasi.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Gejala utama meliputi:
a. Palpitasi (deg-degan)
b. Sesak napas
c. Mudah lelah
d. Nyeri atau rasa tidak nyaman di dada
e. Denyut jantung istirahat lebih dari 100bpm
f. Penurunan tekanan darah dapat terjadi pada kondisi yang tidak stabil
g. Pusing
h. Sinkop (pingsan)
i. Berkeringat
j. Penurunan kesadaran bila terjadi gangguan hemodinamik

Faktor Risiko
a. Penyakit Jantung Koroner
b. Kelainan Jantung
c. Stress dan gangguan kecemasan
d. Gangguan elektrolit

Faktor Predisposisi
a. Penyakit yang menyebabkan gangguan elektrolit seperti diare
b. Sindrom koroner akut
c. Gangguan cemas yang berlebih pada SVT
d. Aritmia

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik Patognomonis
a. Denyut jantung melebihi 100 kali per menit dan bisa menjadi sangat
    cepat dengan frekuensi > 150 kali per menit pada keadaan SVT dan VT
b. Takipnea
c. Hipotensi
d. Sering disertai gelisah hingga penurunan kesadaran pada kondisi yang
    tidak stabil.

Pemeriksaan Penunjang
EKG :
a. SVT: kompleks QRS sempit (< 0,12ms) dengan frekuensi > 150 kali per
    menit. Gelombang P bisa ada atau terkubur dalam kompleks QRS.
 
b. VT: terdapat kompleks QRS lebar ( > 0,12ms), tiga kali atau lebih secara
    berurutan. Frekuensi nadi biasanya > 150 kali per menit
 

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
penunjang.

Diagnosis Banding : -

Komplikasi
Bisa menyebabkan kematian

Rencana Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
a. Tata Laksana:
    Keadaan ini merupakan keadaan yang mengancam jiwa terutama bila
    disertai hemodinamik yang tidak stabil. Bila hemodinamik tidak stabil
    (Tekanan Darah Sistolik < 90 mmHg) dengan nadi melemah, apalagi
    disertai penurunan kesadaran bahkan pasien menjadi tidak responsif
    harus dilakukan kardioversi baik dengan obat maupun elektrik. Kondisi
    ini harus segera dirujuk dengan terpasang infus dan resusitasi jantung
    paru bila tidak responsif. Oksigen diberikan dengan sungkup O2 10-15
    lpm.
    Pada kondisi stabil, SVT dapat diatasi dengan dilakukan vagal
    manuver (memijat A. Karotis atau bola mata selama 10-15 menit). Bila
    tidak respon, dilanjutkan dengan pemberian adenosin 6 mg bolus cepat.
    Bila tidak respon boleh diulang dengan 12 mg sebanyak dua kali. Bila
    tidak respon atau adenosin tidak tersedia, segera rujuk ke layanan
    sekunder. Pada VT, segera rujuk dengan terpasang infus dan oksigen O2
    nasal 4 l/m.
b. Modifikasi gaya hidup:
   1. Mencegah faktor risiko
   2. Modifikasi aktifitas fisik, asupan makanan, dan mengelola timbulnya
       gejala.

Konseling dan Edukasi

Edukasi kepada keluarga bahwa keadaan ini merupakan keadaan yang
mengancam jiwa.
Persetujuan keluarga perlu dilakukan karena membutuhkan penanganan yang
cepat sampai ke tempat rujukan.

Kriteria Rujukan

Segera rujuk setelah pertolongan pertama dengan pemasangan infus dan
oksigen.

Sarana Prasarana

a. EKG
b. Ambulans untuk merujuk
c. Ambu bag

Prognosis

Prognosis dalam kondisi ini umumnya dubia ad malam, tergantung dari
penatalaksanaan selanjutnya.



Sumber gambar :
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_iyBndNb55e2XIatoLq-aOSaAc9JwMhGmvAhUVjH7_GD7M0iIi1kAky17JJveHC_GHxJ54q-1ZeWKcHYvwEKRShVphj5oI3dlVv5T70Nu0AW_kKunbpJgUMKYZT9id8HaUXaykEiDH-c/s1600/Fig-5-VT-but_Irreg+(2-2.2-2012)-Blog-36.JPG
http://cdn.lifeinthefastlane.com/wp-content/uploads/2011/03/RV-VT.jpg
http://trendspig.com/static/77513cc808ca0a00732557e73f27fac0.gif